Selamatkan Imam Syafi’i dari fitnah yang ada

Beberapa ijtihad Imam Asy-Syafi’ie

1. Dzikir ba’da sholat dengan suara sirr/lirih tanpa berjama’ah dan tidak wajib

Imam Syafi’ie menerangkan dalam Al-Umm,

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافَه بلا ذكر، وذكرت أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ. فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة.
وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.

Aku [Imam Syafi’ie] berpendapat baginda Rasul menguatkan suara [dzikir] hanya sesekali untuk mengajari orang – (tidak terus menerus menguatkan suaranya – pen). Ini karena kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadangkala riwayat menyebutkan Rosul berdzikir selepas sholat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut juga [dalam riwayat] Rosul pergi tanpa dzikir – (tidak ada tuntunan berdzikir berjama’ah selepas sholat – pen).
Ummu Salamah pun menyebut duduknya Rosul [selepas sholat – pen] tetapi tidak menyebut bahwa Rosul berzikir secara kuat [mengeraskan bacaan – pen].
Aku [Imam Syafi’ie] berpendapat baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara tidak kuat yakni secara lirih [sirr].
Jika seseorang berkata: “Seperti apa?”. Aku katakan, seperti Rosul pernah bersholat di atas mimbar, Rosul berdiri dan ruku’ di atasnya, kemudian Rosul mundur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Sepanjang sejarah Rosululloh tidak pernah melakukanya melainkan waktu itu saja, baginda tidak sholat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat baginda ingin orang-orang yang jauh yang tidak melihat Rosululloh dapat mengetahui bagaimana kaifiyat/cara berdiri (dalam sholat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Baginda ingin mengajar mereka tentang itu semua.
Aku [Imam Syafi’ie] menyukai sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang sebentar hingga kaum wanita pergi dahulu. Ini seperti apa yang Ummu Salamah katakan. Kemudian imam boleh bangun/pergi. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum pun boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia menunggu sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya. [rujukan 1]

2. Hindari berkumpul untuk peringatan kematian (3–7–40 harian)

Imam Syafi’ei sendiri tidak menyukai amalan berkumpul di rumah kematian sepertimana yang telah dikemukakan di dalam kitabnya Al-Umm, “Aku tidak suka mat’am [yaitu berkumpul di rumah keluarga mayat – pen] meskipun di situ tiada tangisan karena hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan.” [ rujukan 2]

Dalam kitab Fiqh karangan Imam Nawawi menyebutkan,
“Penyedian makanan yang dilakukan oleh keluarga kematian dan berkumpulnya orang yang ramai di rumahnya, adalah tidak ada nashnya sama sekali (tidak ada dalil – pen), yang jelasnya semua itu adalah bid’ah yang tidak disunatkan.” [rujukan 3]

Dalam I’anatut Talibin menyebutkan fatwa mufti bermazhab Syafi’ie, Ahmad Zaini bin Dahlan,
“Dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa mencegah umat daripada perkara bid’ah mungkarat ini [peringatan kematian – pen] sama seperti halnya menghidupkan sunnah nabi Sallallahu `alaihi wasallam. Mematikan bid’ah seolah-olah membuka pintu kebaikan seluas-luasnya dan menutup pintu keburukan serapat-rapatnya kerana orang lebih suka memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada sesuatu yang haram.” [rujukan 4]

Imam Abdurrahman al-Jaza’iri yang bermazhab Syafi’ie menyatakan,
“Dan di antara bid’ah yang dibenci agama ialah sesuatu yang dibuat-buat yaitu menyembelih hewan-hewan di tanah kubur tempat mayat di tanam [qurban untuk sesaji – pen] dan menyediakan hidangan makanan yang diperuntukkan bagi mereka yang datang bertakziah [selamatan – pen].” [rujukan 5]

3. Kirim pahala bacaan pada orang yang telah meninggal (tahlilan/Yasinan)

Imam Syafi’ie menyebutkan “Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam telah memberitahu sebagaimana yang telah pun diberitakan dari Allah bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya sesuatu amal yang telah dikerjakan adalah hanya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain dan tidak dapat dikirimkan kepada orang lain (tidak ada kirim amalan/pahala untuk si mayit – pen) .” [rujukan 6]
Dan beliau berpegang pada firman Allah SWT (artinya), “Dan seseorang itu tidak akan memperoleh melainkan pahala daripada daya usahanya sendiri.” (an-Najm : 39)

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, Tafsirul Qur’anil Azim telah menafsirkan surah an-Najm ayat 39 sebagai,
“Yaitu, sebagaimana dosa seseorang tidak boleh menimpa ke atas orang lain, begitu juga halnya seseorang manusia juga tidak boleh memperolehi sebarang pahala melainkan dari hasil usaha amalannya sendiri

Imam Nawawi yang bermazhab Syafi’ie dalam syarah muslim menyebutkan sabda Nabi Sallallahu `alaihi wasallam (artinya),
“Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amal usahanya kecuali tiga daripada amalnya, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak soleh yang berdoa untuknya” [rujukan 7]

Imam As-Subuki yang bermazhab Syafi’ie menjelaskan,
“Membaca al-Qur’an dan mengirimkannya sebagai pahala untuk seseorang yang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yang mati atau sebagainya adalah tidak sampai kepada si mayit yang dikirimkan menurut Jumhurul Ulama dan Imam Syafie. Keterangan ini telah diulang beberapa kali oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim” [rujukan 8]

Adapun sebagaian ulama berpendapat tahlilan itu bid’ah hasanah maka itu tidaklah benar. Bid’ah menurut Imam Syafi’ie terbagi menjadi dua hasanah/baik dan sayyiah/sesat tapi itu tertentu pada urusan dunia/kebiasaan yang berkembang bukan pada urusan ibadah dengah syarat dan rukun yang harus syar’i seperti,
– Contoh bid’ah hasanah : susu pabrik (kaleng-bubuk) karena tidak ada pada masa Nabi, tapi tetaplah itu susu yang lebih memudahkan. Kemudian sepeda atau motor atau mobil karena yang dipakai masa Nabi adalah Kuda atau Unta atau Keledai, tapi itu tetaplah alat transportasi yang bahkan lebih bermanfaat.
– Contoh bid’ah sayyiah/buruk : Televisi karena penuh dengan adegan-adegan yang seronok. Ecstasy/Putauw karena memabukan seperti khomer bahkan lebih buruk.

4. Dua Adzan dalam sholat Jum’at

Imam Syafi’ie meriwayatkan dua adzan dalam sholat jum’at berdasarkan shiroh shahabat Utsman radhiallohu ‘anhu. Dimana beliau memerintahkan seseorang untuk adzan di zaura’ (sebuah tempat di tengah pasar/kota dan diluar masjid) sebelum waktu sholat jum’at

Shahabat Utsman radhiallohu ‘anhu berijtihad menambahkan adzan pada hari jumat dikarenakan orang sudah terlalu banyak, rumah-rumah sudah banyak maka Utsman radhiallohu ‘anhu memerintahkan seseorang untuk adzan di zaura’ (sebuah tempat di tengah pasar/kota dan diluar masjid). Sebagai peringatan bahwa waktu jumat sudah dekat agar mereka bersiap dan tidak tertinggal mendengar khutbah. (Al-Umm: 1)

Mungkin hal ini didasarkan kisah sahabat Bilal ber-adzan jauh sebelum waktu shubuh dan kemudian ber-adzan lagi saat masuk waktu shubuh – dan Nabi tidak menegurnya karena Adzan pertama adalah peringatan menjelang waktu shubuh – lihat shohihah Bhukori

Dan Rosulullah bersabda, “Siapa saja yang hidup sesudahku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka ikutilah sunnahku, dan sunnah khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk. dan gigitlah sunnah itu dengan gerahammu.”

Pertanyaan kritis, “Apakah tercantum dalam Al-Umm atau adakah atsar Imam Syafi’ie yang menyatakan dua adzan dikumandangkan di dalam masjid pada saat sholat Jum’at”

Masa sekarang muadzin mengumandangkan adzan pertama didalam masjid, dulu Shahabat Utsman Radhiallohu ‘anhu memerintahkan untuk melakukannya di zaura’ di tengah pasar diluar masjid dan inilah yang jadi permasalahan.
Kalaupun tidak dipasar atau ditengah perkampungan maka cukuplah lewat pengeras suara dengan kumandang tetap diluar masjid tempat sholat jum’at dilaksanakan (Al-Albani, Kitab Al Ajwibah AnNafia’ah).

Akhifillah, tersebut diatatas hanya 4 hal saja dari banyak hal-hal lain amalan para Syafi’iyah yang telah jauh dari ijtihad Imam Asy-Syafi’ie sendiri.
Dan pertanyaan kritis wahai kaum yang mengaku Asy-Syafi’iyah yang mencintai Rosululloh dan mengikuti ijtihad Imam Asy-Syafi’ie,
“Apakah amalan ibadah kita sesuai dengan ijtihad Imam Syafi’ie dalam karya fiqh beliau ?
Apakah amalan ibadah kita sesuai dengan dalil yang dipakai dalam ijtihad Imam Asy-Syafi’ie dalam karya fiqh beliau ?”
Haruskah kita mengikuti dan mengamalkan suatu ibadah berdasarkan akal/nalar/keinginan atau tradisi/kebiasaan yang tidak sesuai dengan ijtihad Imam Asy-Syafi’ie bahkan tidak berdasar pada Al-Quran dan As-Sunnah ?
Haruskah kaum yang mengaku Syafi’iyah menjadi penghancur dan pengacau ijtihad Imam Asy-Syafi’ie dalam karya fiqh beliau?

Pahami ijtihad Imam Asy-Syafi’ie dalam karya-karyanya dengan haq dan lurus yang berdasar pada syarah yang haq dan lurus seperti dari murid-murid Al-Imam Asy-Syafi’ie, Jangan berdasarkan pada akal/nalar atau taklid buta semata kepada tradisi. Karena Al-Imam Asy-Syafi’ie, insyaAllah, jauh dari kesesatan dalam pemahaman yang benar dari Al Quran dan Hadits, apalagi pemahaman yang tidak berdasarkan Al Quran dan Hadits.

Akhifillah, mari kita renungi nash-nash berikut,

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululloh suri tauladan yang baik bagimu …” (QS.Al-Ahzab :21)

“Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah Aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(QS. Ali Imran 3 : 31)

Hadits Nabi SAW,

وعن أبي عبد الله النعمان بن البشير قال: سمعت رسول الله يقول: إن الحلال بَيِّن وإن الحرام بَيِّن، وبينهما أمور مشتبهات، لا يعلمهن كثير من الناس، فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، رواه البخاري ومسلم
Dari Abi Abdillah An-Nu’man bin Al-Basyir ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya adalah masalah yang mutasyabihat. Kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang takut (berhati-hati) dari masalah yang syubhat baginya, maka dia telah terbebas demi agama dan kehormatannya. Sedangkan orang yang jatuh dalam masalah syubhat, dia jatuh ke dalam perkara yang haram (HR Bukhari dan Muslim)

Dan Rasulullah SAW bersabda,

يا أيُّها الناس! إنِّي قد تركتُ فيكم ما إن اعتصمتم به فلَن تضلُّوا أبداً: كتاب الله وسنَّة نبيِّه صلى الله عليه وسلم
“Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, (HR. Al-Hakim)

Imam Asy-Syafi’ie berkata,
.” [Hilyatul Auliya’, Al-Hafidh Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9 hal. 170]

“Semua hadits yang dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam maka itu adalah sebagai omonganku. Walaupun kalian tidak mendengarnya dariku.” [Aadaabus Syafi’ie dan Al-Bidayah. Adz-Dzahabi menukilkan riwayat ini dalam Siar A’lamin Nubala’ jilid 10 hal. 35]

Wallahu a’lam bishshawab

************************************************************************
Muroja’ah,
[1] Asy-Syafi’ie, Al-Umm : 1/353
[2] Asy-Syafi’ie, Al-Umm : 1/248
[3] An-Nawawi, al-Majmu’ syarah Muhazab : 5/286
[4] An-Nawawi, I’anatut Talibin : 2/145-146
[5] Al-Fiqhu Ala Mazahibil Arba’ah : 1/539
[6] Asy-Syafi’ie, Al-Umm : 7/269
[7] An-Nawawi, Syarah Muslim : 1/9
[8] As-Subuki, Taklimatul Majmu’, Syarah Muhazzab: 10/426

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: