–Menikah Tanpa Tapi–

Firman Alloh Azza waja’alla (artinya) “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.24:32)

Berbicara tentang menikah, sangat sensitif bagi ikhwah fillah yang sedang menunggu belahan hatinya datang. Sementara umur semakin bertambah, keinginan untuk menikahpun sudah semakin tak bisa ditahan lagi. Apalagi belahan hati itu tidak juga kunjung datang menyapa, sudah tentu hati hanya resah gelisah menantinya.

Jodoh memang rahasia Allah swt, tetapi kita tetap dituntut berdo’a dan ikhtiar agar Allah berkenan mendekatkan jodoh kita disaat hati rindu menikah. Memang selalu menjadi bahasan yang menarik berbicara tentang menikah. Alaa kulli hal, kita tetap selalu istiqomah dijalanNya, semoga Allah memberikan kita semua jodoh yang sebaik-baiknya.

Hidup ini pun sebenarnya belum hidup yang senyatanya bagi mereka yang belum menikah. The real life adalah hidup dimana setelah kita menikah. Dimana semakin hari beban hidup kita semakin bertambah, semakin hari usaha kita semakin keras karena semakin bertambah amanah yang kita emban, seperti bertambahnya jundi-jundi dari rahim isteri kita, berarti kita juga harus siap menambah nafkah kita untuk keluarga, dan itu berarti kita harus berusaha lebih keras lagi, berjuang lebih keras lagi. Kita sekarang bisa saja makan dimanapun dan kapanpun dengan makanan seadanya, namun ketika kita sudah menikah maka hal ini tidak bisa lagi seperti dulu, bila kita tidak bisa makan dirumah, mungkin sebagian dari kita harus memberi tahu dulu isteri dirumah bahwa malam ini kita tidak bisa makan dirumah, kalau kita tidak memberi tahu barangkali isteri dirumah sudah menyiapkan masakan terenaknya untuk kita, menunggu kita pulang, bahkan sampai larut malam, dan makananpun sudah terlalu dingin hanya karena menunggu kita.

Berbicara masalah ta’aruf, bagaimana sebenarnya proses ta’aruf itu? Bagaimana perkenalan yang sesuai syari’at dan yang menyalahi syari’at? Perkenalan itu haruslah tidak melanggar apa yang dilarang oleh Allah swt. Tidak mengundang murkaNya, sebagaimana kita semua tahu tidak ada pacaran sebelum menikah, lantas ada seorang teman yang mempunyai sebuah pertanyaan nyeleneh, ‘bagaimana kalau tidak pacaran tapi punya pacar?’ pertanyaan ini sudah terjawab oleh al Qur’anul Kariim, wa laa takhrobuz zina, janganlah mendekati zina…

Meninjau sejenak tentang pacaran, banyak keluarga di negara barat yang kandas ditengah jalan karena mereka merasa sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga itu, sudah tidak sama-sama cocok lagi, padahal mereka dulu sebelum menikah sudah ada yang sangat lama pacaran, bahkan sampai bertahun-tahun, yang katanya sudah sama-sama saling mengenal, sudah sama-sama sangat cocok, tetapi apa kenyataannya? Sungguh pacaran tidak menjamin bisa menjadi media saling mengenal yang baik, sehingga merasa rumah tangga yang akan dibangun nantinya akan berdiri kokoh.

 

Selain itu dengan pacaran setelah sekian lama dan telah berkorban hati, tenaga, dan juga fisik, belum menjamin dua hati itu nantinya akan lanjut ke jenjang pernikahan, ada yang hanya untuk senang-senang, meluapkan hawa nafsu setelah puas kemudian ditinggal begitu saja. Tentunya sangat merugikan pihak wanita dalam hal ini, bagaimana nantinya dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak? Dia kebagian apa dari diri wanita itu? Sudah tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya, ‘afwan-‘afwan, kesucian tangannya telah dinodai laki-laki lain yang menjadi pacarnya dulu, bibirnya sudah tidak lagi virgin, pipinya, dan bahkan ada yang sampai ‘itu’ nya sudah tidak virgin lagi, sudah diserahkan pada pacarnya yang telah lalu, lalu untuk seorang laki-laki yang akan menjadi suami kita kelak disisakan apa? Dan masih banyak lagi dampak buruk dari pacaran.

Sebuah matan hadits, jika datang seorang yang kalian ridha agama dan akhlaknya maka nikahkanlah maka jika tidak akan terjadi kerusakan dimuka bumi (al hadits, shahih). Kemudian apa ukuran baik agamanya itu? Apa shalat 5 waktu ke masjid? Sebagian ada yang merasa cukup dengan hal ini, sebagian lagi ada yang ingin lebih, misal dia harus terbiasa ikut kajian, dan ada yang mencukupkan pada hal ini, tapi ada juga yang ingin lebih dari itu, misal dia minimal hafal 15 juz al Qur’an, ada lagi yang merasa kurang, dia harus hafal minimal 100 hadits, ada lagi yang ingin lebih dari itu, dia harus bisa berbahasa arab dengan baik.

Dan semua itu tidak salah, tergantung kita apakah kita ridha dengan agamanya atau itu masih belum cukup bagi kita. Dan sungguh yaa ikhwah, jangan pernah membohongi kata hatimu sendiri, dimana pertama kita sudah sangat ridha dengan agamanya, tapi setelah kita melihat wajahnya tidak sesuai dengan apa yang kita harap, kekayaannya tidak seberapa, apalagi dia dari keturunan yang biasa saja, kemudian kita urung menerimanya, ingatlah hadits Rasulullaah saw, menikah karena agamanya (lidiiniha), maka sungguh kalian akan bahagia, sedangkan karena kecantikannya (lijamaliha), karena hartanya (limaaliha), karena keturunannya (linasabiha), semua itu hanya bersifat duniawi dan sementara. Dan sesungguhnya kesenangan akhirat itu lebih kekal dari pada kesenangan duniawi yang sementara ini.
 

Bahkan ada seorang mahasiswi, seorang aktivis, seorang murabbi, menikah dengan seorang ikhwan satu universitas, karena tidak siap mengemban amanah, takut menerima amanah, sampai ia berani berlaku nuzyuz pada suaminya, 2 tahun ia tidak bersedia berhubungan badan dengan suaminya, astaghfirullaahal’adziim, sampai seperti itunya, sungguh kasihan dengan yang ikhwan itu? Ada yang merasa memiliki 2 orang anak sudah cukup, tapi sungguh lebih baik lagi jika mempunyai 3 orang anak, lebih baik lagi mempunyai 4 orang anak, lebih memuaskan mempunyai 5 orang anak, sangat memuaskan mempunyai 6 orang anak, istimewa mempunyai 7 orang anak, mumtaz mempunyai 8 orang anak, dan seterusnya, alhamdulillah.

Itulah salah satu contoh kenapa the real life itu setelah seseorang menikah, disaat dia dikaruniai seorang anak, dia masih belum begitu berat bebannya, begitu dikaruniai 2 atau 3 atau bahkan 4 orang anak, maka ia semakin berat beban amanahnya, dengan begitu ia akan semakin gigih mencari nafkah, semakin kerja keras menghidup keluarganya dengan peluh keringatnya, inilah yang sebenar-benarnya hidup. Ia mampu melaksana islam secara kaffah, dengan mendidik anak dan isteri, mencari nafkah, dll.

Jika di antaka kalian mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya menikah itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Pengertian mampu (al ba’ah), dalam kalimat tersebut, ada beberapa pandangan dari ulama. Ada yang mengatakan mampu disini adalah mampu dalam hal berhubungan suami isteri, ada juga ulama yang mengartikan mampu dalam artian mampu dalam hal biaya, tetapi pendapat yang paling kuat kata mampu disini adalah mampu dalam hal memberi nafkah, siap bekerja keras. Lalu apakah lantas kita harus mempunyai pekerjaan tetap? Bukan begitu yaa ikhwah. Sebagian dari kita mengartikan pekerjaan tetap adalah bekerja dengan patokan waktu, dari jam sekian sampai sekian, dikantor, ada juga yang harus memakai seragam kerja, bersepatu, dengan penghasilan tetap setiap bulannya. Banyak diantara saudara kita yang mencari nafkah dengan memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang halal yang ada untuk mengais rejeki. Dan alhamdulillah, keluarga mereka jarang kekurangan, kelaparan, sungguh janji Allah itu pasti, barangsiapa yang menikah karena ingin menjaga kehormatan dan kemaluannya dan hanya ingin mengharapkan ridha Allah swt, maka yakinlah Allah akan menjadi penolong kita. Asalkan kita tidak malas-malasan, berpangku tangan, melainkan kita bekerja keras, selalu mencari rejeki yang halal untuk keluarga kita, pastilah Allah akan mencukupi kebutuhan hidup kita.

Kita disunnahkan untuk menyegerakan pernikahan, bukan tergesa-gesa ataupun terburu-buru, seperti contoh, seorang ikhwan sehabis mengikuti kajian tentang menikah dini, langsung ia minta tolong pada ustadz yang mengisi, ‘tadz, ana mau menikah, tolong carikan jodoh untuk ana’, wah..ini namanya tergesa-gesa, kurang perhitungan, dan bukan yang dimaksud dalam menyegerakan pernikahan itu. Tentunya kita harus memperhitungkan segalanya, mulai dari kesiapan mental, ruhiyah, menerima amanah, ekonomi, semua ini diperhitungan, tetapi bukan berarti jika semua itu belum siap menurut pandangan kita lantas kita selalu menunda-nunda pernikahan, menunda-nunda untuk melakukan sebuah kebaikan.

Pertimbangan lain tentang sekufu’, ada yang menganggap sekufu’ itu harus selevel pendidikannya, harus sama nasabnya, harus sederajat kedudukannya, kekayaannya, dan sungguh ini hanya akan mempersulit diri kalian sendiri untuk menikah. Pendapat yang paling kuat dari para ulama salafush shalih adalah sekufu’ dalam hal diinnya, agamanya. Dia haruslah sama akidahnya, sama-sama mengimani Allah dan Rasul saw. Sama-sama berakhlak baik, beriman dan bertakwa pada Allah swt.

Kemudian ada yang bertanya, bagaimana kalau berbeda manhaj? Kita tahu kalau manhaj adalah hal yang prinsip, tentunya kita harus lebih memikirkan bagaimana kalau calon yang datang kepada kita berbeda manhaj? Pertama yang harus kita tekankan adalah, sejauh calon itu berpegang pada al Qur’an dan as Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman para salafush shalih, dan tidak membahayakan agama kita, maka tidak ada alasan ini menjadikan sebab kita menolaknya. Tapi bila itu sudah tidak sepaham lagi dalam memahami al Qur’an dan as Sunnah, kita yang ingin menghidupkan sunnah dalam rumah kita tetapi ia lebih suka menghidupkan bid’ah maka ini bisa menjadi alasan syar’i kita tidak menerimanya, karena tentu saja ini membahayakan agama kita.

Akhirnya, dengan menikah kita akan bisa melaksanakan diin ini secara kaffah, sebagaimana dalam firmanNya (artinya) “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS.2:208)

 
Kaffah (menyeluruh), tiada lain dengan menikah, kitapun tahu tahu bahwa hidup ini belum lengkap kalau kita belum menikah. Dimulai saat kita menikah maka akan banyak perubahan dalam hidup kita, mulai dari tanggung jawab pada diri sendiri, keluarga, orang tua, mertua, keluarga orang tua, keluarga mertua, itu tanggung jawab seorang pemimpin rumah tangga. Setelah menikah maka isteri menjadi tanggung jawab kita, dan bakti isteri pada orang tuanya menjadi tanggung jawab kita karena isteri sekarang taatnya pada seorang suami, bukan pada orang tua mereka lagi, maka sebagai seorang suami haruslah menjaga hubungan baik antara orang tua dan anaknya dan kerabat-kerabatnya.

 

Yaa ikhwah, sesuatu yang agung pastilah banyak kendala, halangan, aral melintang untuk menuju kesana, jangan jadikan ini sebagai pelemahmu untuk menuju kebaikan itu, tetapi jadikanlah ini sebagai cambuk hati untuk melecutkan semangat kita menunaikan kebaikan itu.

Pesan penulis, tiada lagi alasan bagi kita mau menikah tapi masih kuliah, mau menikah tapi belum punya pekerjaan tetap, mau menikah tapi takut punya anak, mau menikah takut masalah-masalah rumah tangga, mau menikah tapi belum mendapat ijin orang tua, mau menikah tapi belum ada biaya, mau menikah tapi..dan tapi…dan tapi…lalu…tapi kapan mau menikah? Menikah Tanpa Tapi menjadikan kita mukmin sejati, percaya deh ma pertolongan Allah, siapa lagi yang lebih menepatinya janjinya selain Allah?

 
Sungguh ridha Allah lebih dari segalanya daripada yang lainnya. Jangan kita menodai kesucian hati dengan wanita atau laki-laki yang notabene akan menikah dengan kita kelak, asyik berkomunikasi dengannya, ngobrol, diskusi bareng, malu dong kita memberikan cinta pada orang yang belum berhak. Ada seseorang kelak yang berhak menerima cinta kita, entah dibelahan bumi mana ia berada kita tidak tahu, tapi percayalah Allah telah menyediakan jodoh yang sesuai dengan kita. Jika baik kita baik dimata Allah, dekat denganNya, menjaga perintahNya dan menjauhi laranganNya, pastilah jodoh yang diberikanNya kelak juga baik dimata Allah, tetapi jangan harap Allah akan memberikan kita jodoh yang baik jika kita telah membuatNya marah, murka, menjauh dariNya dengan menodai kesucian hati, dengan berpacaran, melanggar apa yang dilarangNya, asyik ber sms an dengan yang bukan mahramnya, asyik ber YM dengan yang bukan mahramnya, dan yang sejenisnya, pastilah Allah murka dengan sikap kita.

Semoga ini menjadi amal baik penulis, sebagai bukti bahwa penulis telah menyeru pada kebaikan, semoga pahala ditetapkan atas penulis dan orang-orang yang mengambil kebaikan dengannya. Allaahumma aaamiin…

Setiap kebenaran dari goresan tangan penulis semata-mata dari Allah swt, dan apabila ada salahnya itu semata-mata dari kejahilan diri pribadi penulis.

Dan satu lagi, jangan pernah lupa mengingat Allah, dalam setiap keadaan dan tempat, seperti firman-Nya (artinya)
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:191)

 

Salam, Azzam Akhukum Fillah.

*disadur dari Jilbabonline

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: