Akhlak Karimah terhadap Hukum Allah Azza wa Jalla…

بسم الله الرحمن الرحيم

“أَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ”

Setiap hukum ataupun hujjah yg ditetapkan Allah Ta’ala melewati Rasul-Nya shalallahu’alaihi wa sallam bila sampai kepada seorang mukmin maka tidaklah yg dihati dan keluar dari mulutnya selain “Kami dengar dan kami taat”

Karena Allah Ta’ala telah berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

(arti), “Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An Nuur: 51)


Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa sesungguhnya sifat orang yang benar-benar beriman (yaitu yang imannya dibuktikan dengan amalan) apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Rasul memberikan keputusan di antara mereka niscaya mereka akan mengatakan, “Kami dengar dan kami taati”, sama saja apakah keputusan tersebut dirasa cocok ataupun tidak oleh hawa nafsu mereka. Artinya mereka mendengarkan keputusan hukum Allah dan Rasul-Nya serta memenuhi panggilan orang yang mengajak mereka untuk itu. Mereka taat dengan sepenuhnya tanpa menyisakan sedikitpun rasa keberatan.

Dan seorang mukmin akan meng-Imani dg ikhlas dalam ketundukan melaksanakan hukum yg telah ditetapkan Allah Ta’ala melewati Rasulullah-Nya shalallahu’alaihi wa sallam

Karena Allah Ta’ala juga berfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

(arti), “Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisaa: 65)

Imam Al-Qurthuby rahimahullah berkata, “Dan penjelasan hal ini adalah bahwa seorang muslim jika dia mengetahui hukum Allah -Ta’ala- pada suatu perkara lalu dia tidak berhukum dengannya maka : kalau perbuatan dia ini karena juhud maka dia kafir tanpa ada perselisihan, dan jika bukan karena juhud maka dia adalah pelaku maksiat dan dosa besar karena dia masih membenarkan asal hukum tersebut dan masih meyakini wajibnya penerapan hukum tersebut atas perkara itu, akan tetapi dia berbuat maksiat dengan meninggalkan beramal dengannya”. (Al-Mufhim 5/117).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy rahimahullah berkata, “Maka berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan adalah termasuk amalan orang-orang kafir. Kadang mengeluarkan pelakunya dari agama jika dia meyakini halal dan bolehnya hal tersebut, dan kadang hanya merupakan dosa dari dosa-dosa besar dan termasuk perbuatan kekafiran (kufur ‘amaly/kecil-pent.) dan berhak mendapatkan siksaan –lalu beliau membawakan ayat ke 44 surah Al-Ma`idah di atas-. Ibnu ‘Abbas berkata : “Kekafiran di bawah kekafiran, kefasikan di bawah kefasikan dan kezholiman di bawah kezholiman”. Maka dia (berhukum dengan selain hukum Allah) adalah kezholiman besar jika menghalalkannya dan merupakan dosa yang sangat besar ketika mengerjakannya tapi tidak menghalalkannya”. (Taysirul Karimir Rahman 2/296-297)

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy rahimahullah berkata, “… Dan barangsiapa yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan karena menentang para rasul sebagai pembatalan atas hukum-hukum Allah. maka kezholimannya, kefasikannya dan kekafirannya mengeluarkan dari agama. Dan barangsiapa yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan dalam keadaan meyakini bahwa dia mengerjakan suatu perkara yang haram dan perbuatan yang keji, maka kekafirannya, kezholimannya dan kefasikannya tidak mengeluarkan dia dari agama”. (Adhwa`ul Bayan 2/104-2/109)

Dalam penetapan suatu hukum seorang mukmin haruslah selalu berpegang dan kembali pd yg ditetapkan Allah Ta’ala melewati Rasul-Nya shalallahu’alaihi wa sallam, dan tidaklah bersandar dg taqklid buta mengikuti perkataan ulama/umara terutama bila hal itu menyelisihi apa-apa yg telah ditetapkan Allah Ta’ala melewati Rasul-Nya shalallahu’alaihi wa sallam, bahkan lebih2 taqlid buta itu menjadikan ulama/umara sebagai ketaatan.

Karena dg mentaati para ulama/umara ataupun makhluk lain dalam merubah hukum2 Allah dan bila dia ridha juga mengetahui jelas penyimpangan ini dari syari’at Allah maka bisa jatuh ke syirik akbar, karena menghalalkan dan mengharamkan dan ketaatan adalah hak Allah Ta’ala semata.

Dari ‘Adi bin Hatim (arti), dikisahkan mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat,

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ

“Mereka (ahlul kitab) menjadikan para ulama (pendeta) dan rahib-rahib (ahli ibadah) mereka sebagai tuhan sesembahan selain Allah.” (QS. At Taubah: 31)

Maka Adi bin Hatim pun berkomentar kepada Nabi, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.”

Maka Nabi mengatakan, “Bukankah mereka sudah mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian pun ikut mengharamkannya? Dan bukankah mereka juga menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah kemudian kalian pun ikut menghalalkannya?” Adi bin Hatim menjawab, “Memang demikian” Maka Nabi pun bersabda, “Itulah wujud peribadahan kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Tirmidzi menghasankannya. dan dinilai hasan oleh Al Albani, Al Qaul Al Mufid, II/66)

Pun bila hukum itu ditetapkan berdasarkan hadits dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam maka tetaplah kita harus meng-Imani dg ikhlas dalam ketundukan dan ketaatan melaksanakan hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam.

Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

(arti), “Dan apa saja yang dibawa Rasul maka ambillah dan apa saja yang dilarang Rasul maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)

dan juga firman-Nya,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

(arti), “Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dengan hawa nafsunya akan tetapi dia berbicara berdasarkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An Najm: 3-4)

Dan bila kemudian setelah keimanan dan keikhlasan dlm usaha ketundukan – ketaatan melaksanakan hukum yg ditetapkan Allah Ta’ala dan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kemudian terdapat hal-hal pemberat/penghalang yg diluar keinginannya & kesanggupannya maka seorang mukmin akan berlindung dan berserah diri pada Allah Ta’ala pemilik hukum itu dg berdoa “Ya Rabb kami janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak sanggup kami pikul”

Karena Allah Ta’ala berfirman,

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

(arti),“Allah tidaklah membebankan kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Baginya pahala atas amal yang dia perbuat dan baginya dosa atas kejahatan yang dia perbuat.” (QS. Al Baqarah: 286)

Syaikh Al ‘Utsaimin berkata, “Oleh sebab itulah Allah ta’ala tidak akan membebankan kepada manusia sesuatu yang tidak sanggup dikerjakannya. Bahkan jika dia tidak sanggup untuk melakukan sebuah kewajiban maka bentuknya akan berubah menjadi cara lain yang bisa menggantikannya, apabila hal itu ada penggantinya. Atau bisa jadi kewajiban itu gugur darinya jika memang tidak ada penggantinya…” dan berdoa “Wahai Rabb kami janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak sanggup kami pikul” dan Allah menyatakan, “Ya (Ku-kabulkan do’amu)” artinya Allah tidak akan memikulkan kepadamu sesuatu yang tidak sanggup kamu laksanakan. (Syarh Riyadhush Shalihin, I/630-634)

Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah berkata “Jika seseorang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, maka dia tidak boleh dihukumi kafir kecuali dengan beberapa syarat:

1. Dia tidak terpaksa.

2. Dia mengetahui bahwa hukum tersebut tidak termasuk dari apa yang Allah turunkan.

3. Dia beranggapan bahwa hukum tersebut sama atau (bahkan) lebih baik daripada hukum Allah”.

(Al-Makhroj minal Fitnah : 82)

akhir catatan, yg benar dari Allah Azza wa Jalla dan yg salah dr pribadi ini semata dan insyaAllah yg sedikit dan jauh dari sempurna bisa memberikan manfaat.

Wallahu a’lam bish shawab wa Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: