Apakah yg engkau kerjakan

Wahai diri ini… tidaklah yg engkau katakan dalam amal melainkan,

Apakah urusan itu masuk urusan Agama ?

Apakah urusan itu masuk urusan Ibadah ?

Apakah urusan itu mempunyai amaliyah dg kaifiyyat2nya dan adab2nya ?


Syaikh ‘Utsaimin di dalam kitab Al-Ibtida’ fi kamal Asy-Syar’i menjelaskan syarat yang harus dipenuhi dalam ibadah, bahwa sebagaimana ketika Fudhail bin Iyadh menerangkan ayat الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. Beliau menerangkan bahwa أَحْسَنُ عَمَلًا (yang lebih baik amalnya) adalah أخلصه وأصوابه “yang paling ikhlash dan paling benar (ittiba’ Rasul)”. Jadi syarat mutlak dalam ibadah adalah :

1. Ikhlash lillahi I dan menjauhkan diri dari syirik baik syirik asghar maupun syirik akbar.

2. Mutaba’ah li Rasulillah dan menjauhkan diri dari bid’ah dan muhdats.

Syaikh ‘Utsaimin melanjutkan, “Perlu diketahui bahwa mutaba’ah tidak akan dapat tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari’at dalam enam perkara:

1. Sebab, yakni jika seseorang melakukan ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan mardud (tertolak). Contoh : seseorang yang melakukan sholat tahajjud pada malam 27 Rajab, dengan alasan bahwa malam tersebut adalah malam mi’raj Rasulullah r, adalah bid’ah, dikarenakan sholat tahajjudnya dikaitkan dengan sebab yang tidak ditetapkan dengan syari’at, walaupun sholat tahajjud itu sendiri adalah sunnah. Namun karena dikaitkan dengan sebab yang tidak syar’i, sholatnya menjadi bid’ah.

2. Jenis, yakni ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya, jika tidak maka termasuk bid’ah. Contoh : seseorang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyelisihi syari’at dalam ketentuan jenis hewan kurban, yang disyari’atkan hanyalah unta, sapi dan kambing.

3. Kadar (bilangan), yakni ibadah harus sesuai dengan bilangan/kadarnya, jika menyelisihinya maka termasuk bid’ah. Contoh : seseorang sholat dhuhur 5 rakaat, dengan menambah bilangan sholat tersebut, hal ini tidak syak lagi termasuk bid’ah yang nyata.

4. Kaifiyat, seandainya (contohnya) seseorang berwudhu dengan cara membasuh kaki terlebih dahulu kemudian tangan, maka tidak sah wudhunya, karena menyelisihi kaifiyat wudhu’.

5. Waktu, seandainya (contohnya) ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzulhijjah, maka tidak sah, karena waktunya tidak sebagaimana yang diperintahkan.

6. Tempat, seandainya (contoh) seseorang beri’tikaf bukan di Masjid, maka tidak sah I’tikafnya, karena I’tikaf hanyalah disyari’atkan di masjid, tidak pada selainnya.

Wahai diri yg fakir ini berlindunglah pada Allah Azza wa Jalla dari fitnah akal & ahwa hingga-hingga bisa membuka pintu-pintu rusaknya dien ISLAM yg telah sempurna dan lurus ini, terlebih bila hal tersebut disiarkan dan diamalkan orang hingga merubah agama yg telah sempurna dan lurus ini …

Dalam riwayat oleh Imam Bukhari dalam Kitab Ar Raqaq bab 53/6212 & Al Fitan bab 1/6643 dan Imam Muslim dalam Al Fadlail bab 9/2291, diungkapkan terusirnya segolongan umat Nabi Muhammad dr haudh (telaga)-nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan merubah-rubah agama ini sepeninggalan beliau.

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam An Nawawi memasukkan Pelaku maksiat dan dosa besar serta ahli bid’ah yang belum sampai keluar dari Islam sebagai salah satu golongan yg terusir dr haudh-nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal telah jelas perintah untuk lurus dalam agama dan mengikuti lurusnya yg agama ini diturunkan seperti dalam HR Ahmad I/435, Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu (arti) : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah [yg lurus],” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah as-subul [jalan-jalan yang banyak]. Tidak satupun dari jalan-jalan itu kecuali ada syaithan yang menyeru kepadanya.” kemudian beliau membaca [firman Allah Ta’ala]

إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

arti “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.” [Al An’am:153].

Imam Asy-Syathibi berkata: “sirathal mustaqim (jalan yang lurus) adalah jalan Allah yang dia serukan. Sedangkan As-Subul (jalan-jalan lain) adalah jalan-jalan orang-orang yang berselisih. Yang menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka adalah para ahli bid’ah”(Al-I’tisham I/76 tahqiq Syaikh Salim Al-Hilali)

Wahai diri ini, berhati-hatilah dlm “ISTIHSAN” terlebih dengan dalih “QIYAS” untuk pembenaran akal dan ahwa,

Dalam Ar-Risalah, Imam Syafi’i menyatakan qiyas adalah ijtihad untuk mencari kebenaran dan haruslah berdasarkan dalil [baik qothi’ bahkan yg zhanni] dan dalam keadaan darurat.

Dalam Risalah Ushuliyah, Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang berhujjah dengan istihsan [tanpa dalil dan tidak darurat] berarti ia telah menetapkan sendiri hukum syara’ berdasarkan keinginannya [akal atau hawa nafsu], sedang yang berhak menetapkan hukum syara’ hanyalah Allah Subhanallahu wa ta’ala.”

akhir catatan, ulama-ulama salaf mempunyai perbedaan pendapat dalam banyak perkara dalam istimbath dari nash-nash yg ada. TAPI tidaklah ulama-ulama salaf tersebut berbeda pendapat dari perkara muhdats dalam ibadah yg tidak ada nash-nashnya atau dipelintir nash-nash dari yg semestinya.

Kebenaran dari Allah Azza wa Jalla semata dan kesalahan dr sang fakir inii, insyaAllah yg sedikit dan jauh dari sempurna ini bisa memberikan manfaat.

Wallahu a’lam bish shawab wa Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: