Beberapa Nasehat Luqman Al Hakim…

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ،

أَمَّا بَعْدُ

Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan di dalam ayat-ayat-Nya kisah Luqman Al-Hakim tatkala memberikan pelajaran berharga dan bermanfaat kepada anaknya, di antaranya sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala (arti),

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzoliman yang besar”.[QS. Luqman: 13]

Inilah wasiat-wasiat yang bermanfaat dari Luqman Al- Hakim yang telah Allah subhanahu wata’ala ceritakan kisah tersebut di dalam ayat-ayat-Nya. Maksud dari ayat tersebut adalah bahwasanya Luqman Al-Hakim mewasiatkan kepada anaknya agar berhati-hati dari berbuat syirik dalam beribadah kepada Allah, seperti berdoa (dg syirik) kepada orang-orang yang telah mati atau berdoa kepada makhluk- makhluk ghaib, karena Nabi bersabda yang artinya: “doa itu adalah ibadah.” [HR. Tirmidzi dan beliau berkata haditsnya hasan shohih].

Maka tatkala turun firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 82 (arti):

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzoliman (syirik) ….” maka para shohabat radhiyallahu ‘anhum merasa resah dan gelisah lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapakah di antara kita yang tidak akan mendzolimi dirinya? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: “Bukan begitu maksudnya tetapi kedzoliman yang dimaksud adalah kesyirikan sebagaimana perkataan Luman Al Hakim

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzoliman yang besar”. [QS. Luqman: 13]

[QS. Luqman: 14] firman Allah Ta’ala (arti),

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Dalam ayat ini Luqman Al-Hakim menggandengkan wasiat kepada anaknya untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan wasiat untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala karena besarnya hak kedua orang tua tersebut. Bagaimana tidak, orangtuanya telah mengandungnya dengan susah payah sementara bapaknya memenuhi nafkah keluarganya. Oleh karena itu, wajib bagi seorang anak untuk bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada kedua orangtuanya.

[QS. Luqman: 15] firman Allah Ta’ala (arti),

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, …”

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas bahwasanya maksud dari ayat tersebut adalah jika kedua orang tua berkeinginan keras untuk supaya kamu mengikuti din (kepercayaan) keduanya maka janganlah kamu terima. Tetapi tidak menghalangi hal itu dari mempergauli mereka di dunia secara baik. Dan ikutilah jalannya orang-orang mu’min. Dalil yang lebih menguatkan lagi dari hal ini adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya: “Tidak ada ketaatan kepada seorangpun di dalam kedurhakaan kepada-Ku, hanyalah bai’at itu di dalam yang ma’ruf.” [HR Bukhori dan Muslim].

[QS. Luqman: 16] firman Allah Ta’ala (arti),

“(Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan; “maksudnya adalah sungguh kedzoliman adalah kesalahan meskipun seberat biji sawi, maka Allah subhanahu wata’ala menghadirkan/menampakannya pada hari kiamat nanti untuk kemudian ditimbang secara adil, lalu diikuti balasan. Apabila baik maka balasannya adalah kebaikan, sebaliknya jika buruk maka balasannya adalah keburukan pula”.

[QS. Luqman: 17] firman Allah Ta’ala (arti),

=> “Hai anakku, dirikanlah shalat …”

Maksudnya adalah tunaikanlah sholat sesuai dengan batasan-batasannya, kewajiban-kewajibanya dan waktu-waktunya yang telah ditentukan syariat.

=> “…dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar…”

Maksudnya adalah perintahkan manusia untuk mengerjakan yang baik (ma’ruf) dan cegah mereka dari perbuatan mungkar dengan lemah lembut, lunak, dan tidak kasar sesuai dengan kadar kemampuan.

=> “…dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu…”

Maksudnya adalah harus diketahui bahwa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar mesti akan mendapatkan gangguan dari manusia maka dibutuhkan kesabaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (arti),

“Seorang mu’min yang menggauli manusia dan bersabar atas gangguan lebih utama dari mu’min yang tidak menggauli manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” [Shohih, HR Ahmad dan selainnya].

=> “…Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Maksudnya adalah sesungguhnya bersabar di atas gangguan manusia termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

[QS. Luqman: 18] firman Allah Ta’ala (arti),

=> “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)…”

Maksudnya adalah janganlah engkau palingkan wajahmu dari manusia dengan sombong, angkuh, dan menganggap remeh jika kalian berbicara kepada mereka atau mereka berbicara kepadamu, akan tetapi hendaknya berlemah lembutlah dan tersenyum cerialah selalu kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (arti),

“Kalau engkau bertemu dengan saudaramu maka hadapkanlah wajahmu dengan senyum ceria dan hati-hatilah dari menurunkan pakaianmu di bawah mata kaki (isbal) karena hal itu termasuk kesombongan dan kesombongan tidak dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala” [Shohih, HR. Ahmad].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (arti),

“Senyuman kepada saudaramu adalah sedekah” [Shohih, HR. At Tirmidzi dan selainnya].

=> “…dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh..”

Maksudnya adalah sombong, angkuh, congkak dan sewenang-wenang. Janganlah engkau melakukan hal itu yang menyebabkan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala menimpa dirimu.

=> “…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Maksudnya: “muktal” adalah menganggap dirinya paling hebat, dan “fakhur” adalah menganggap kecil orang lain.

[QS. Luqman: 19] firman Allah Ta’ala (arti),

=> “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan…”

Maksudnya adalah berjalanlah dengan sikap pertengahan, yaitu tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat.

=> “…dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Maksudnya adalah janganlah berlebihan dalam berbicara dan jangan pula mengangkat suara dalam hal yang tidak ada faedahnya (tidak dibutuhkan, pent.) karena hal tersebut menyerupai suara keledai. Berkata Imam Mujahid rahimahullah: “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suaranya keledai yang artinya puncak dari orang yang mengangkat suaranya dengan keras itu serupa dengan suara keledai. Di samping itu pula Allah subhanahu wata’ala membenci suara keledai dan penyerupaannya dengan suara keledai menunjukkan keharamannya dan celaan yang sangat keras dengan tegas dan tinggi. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (arti),

“Tidak ada bagi kita perumpamaan yang buruk orang yang menarik pemberiannya seperti anjing yang menelan kembali muntahnya”. [HR. Bukhari]

Juga sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam (arti),

“Jika kalian mendengar ayam berkokok maka mintalah fadhilah kepada Allah karena sungguh dia (ayam tersebut) telah melihat para malaikat. Dan jika kalian mendengar ringkikan keledai maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaiton karena dia telah melihat syaiton”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Demikian kami nukilkan beberapa nasihat dari Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Semoga nukilan ini bermanfaat bagi kami dan bagi seluruh kaum muslimin untuk saling mewasiatkan terhadap perkara-perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah ‘azza wa jalla sebagaimana nasihat Luqman Al-Hakim di atas terhadap anaknya. Dan semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikannya ikhlas semata mengharap wajah-Nya. Amin yaa Robbal ‘Alamin.

وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

kitab rujukan,

-Kaifa Nurabbi Aulaadana [hal. 5-8 dalam sub judul: Washaya Luqman al hakim li ibnihi]. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Sumber: Booklet Dakwah Al-Ilmu. Edisi: Jum’at, 8 Rabi’uts Tsani 1430H / 3 April 2009 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: