Bila 2 hal ini terjaga maka terjagalah dirinya…

بسم الله الرحمن الرحيم

* Wahai diri ini jagalah hatimu !

Allah Azza wa Jalla berfirman (arti) “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. Muhammad: 24)

Allah Ta’ala berfirman (arti), “(yaitu) pada hari harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (Asy Syu’ara: 88 – 89)

Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda (arti), “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati !” [Muttafaq ‘Alaih, dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]

Hati yang selamat sebagai hati yg tunduk – patuh – taat kepada ketetapan Allah Ta’ala, hati yg terjaga dari syahwat, hati yg terjaga dari penyelisihihan pd perintah dan larangan Allah Ta’ala.

Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia menjaga dan selalu menjaga hatinya dari hal2 yg mengotori atau bahkan menutup hatinya… naudzubillah bila sampai membuat hatinya terkunci.

Beberapa dari kotoran di hati manusia seperti riya, sum’ah, kibr, takabur, hasud, iri, syubhat dan segala hal atau bentuk yg hati tidak menjadi tenang karenanya.

Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya, ‘Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?’ Saya menjawab,’Ya.’ Beliau bersabda, ‘Mintalah fatwa kepada hatimu, kebajikan adalah sesuatu yang jiwamu tenteram kepadanya dan hatimu menjadi tenang, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam jiwa dan ragu di dada, meski manusia memberi fatwa kepadamu” [Musnad IV/227 Imam Ahmad]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah dalam kitabnya Ad-Da’u wad-Dawa’ menghimbau untuk menjaga hati dr berbagai penyakit hati dengan cinta dan taat kepada Allah Ta’ala dengan mentadaburi AlQuran, cinta dan mengikuti apa2 yg dituntunkan Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam dengan mempelajari Sunnah beliau.

* Wahai diri ini jagalah lisanmu !

Allah Ta’ala berfirman (arti), “Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur`an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” [ar-Rahman:1-4]

Allah Ta’ala berfirman (arti), “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda (arti), “Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”. [HR Muslim : 2988]

Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda (arti), “Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR Bukhâri : 6478].

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. [Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits : 6478]

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Adzkar, berkata: “Ketahuilah, seharusnya setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau makruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak dilakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak ada bandingannya.”

Dan Imam Nawawi juga meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adzkar Imam asy-Syafi’i berkata: “Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum berbicara hendaklah ia berfiikir; jika jelas nampak maslahatnya, maka ia berbicara; dan jika ragu-ragu, maka tidak berbicara sampai jelas maslahatnya”.

Wallahu’alam Ta’ala wa Alhamdulillah

Sholawat dan salam pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam – keluarganya – karibnya – shahabatnya – segenap muslim umatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: