Cari dan Berjalanlah dengannya ILMU…

بسم الله الرحمن الرحيم

adakah yg lebih mencukupi dari isi dunia ini dari ilmu yg menuntun ke Iman – Islam – Ihsan yg benar ?

adakah yg lebih mencukupi dari isi dunia ini dari ilmu yg menuntun ke ridha Allah Ta’ala dan mendapatkan wajah Allah Ta’ala kelak ?

adakah yg lebih mencukupi dari isi dunia ini dari ilmu yg menuntun ke jannah dan menjauhkan naar ?

adakah yg lebih mencukupi dari isi dunia ini dari ilmu yg menuntun ke ibadah & amal yg benar dan menjauhkan tertolaknya ?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman (arti),

“Allah meninggikan derajat orang- orang yang beriman di antara kalian dan orang- orang yang berilmu dengan beberapa derajat”. (QS. Al- Mujadilah: 11).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (arti) “Barang siapa dikehendaki Allah diberikan kebaikan, maka Allah akan memahamkan dien kepadanya” (HR Bukhari – Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (arti) “Barang siapa menempuh suatu perjalanan dalam menuntut ilmu (agama), maka Allah akan melapangkan jalannya ke surga.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (arti) “Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu (agama) maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR Tirmidzi)

Aisyah ummul-mukminin meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (arti), “Barang siapa beramal tanpa dasar dari kami, maka tertolak amalannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah Azza wa Jalla berfirman (arti)

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (QS Yunus: 26)

Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (arti), “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca : “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)…”. (HR Muslim).

Maka sebagai muslim akan selalu tergantung pada Ilmu dan akan selalu berusaha mencari Ilmu untuk menuntun setiap detik amalnya dg harapan diterima amalnya oleh Allah Ta’ala hingga maut menjemput

Abu Bakar radhiyallahu’anhu berkata (arti), “Bumi mana yang akan melindungiku, dan langit mana yang akan menaungiku bila aku berkata sesuatu tentang Allah yang aku tidak ketahui.” [1]

Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani rahimahullah menafsirkan ayat yang dibawaka oleh Al-Imam Bukhori dalam shohihnya “Bab Keutamaan Ilmu” : (arti)“Katakanlah (wahai Muhammad) Ya Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu” (QS Thaha : 114)

Beliau (Ibnu Hajar) berkata (arti), “Ini dalil sangat jelas keutamaan ilmu, karena Allah tidak menyuruh Nabi-Nya Shalallahu’alaihi wasallam meminta tambahan kecuali ilmu. Maksud ilmu adalah ilmu syar’I, berfaedah memberi pengetahuan apa yang wajib atas setiap mukallaf (muslim dan muslimah yang baligh) tentang perkara agama, ibadah dan muamalahnya. Ilmu tentang Allah dan sifat-sifatnya dan apa yang wajib dia lakukan dari perintah-Nya serta mensucikannya dari sifat-sifatnya dan apa yang tercela. Pusat semua itu adalah ilmu tafsir, ilmu Hadits dan ilmu Fiqh”.[2]

Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah [3] meriwayatkan beberapa atsar yang menerangkan semangat Salafush Shalih dalam mencari ilmu, diantaranya (arti),

– Dari Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahullah, beliau berkata, “Sesungguhnya aku mencari ilmu sampai aku dimasukkan ke dalam kubur”

– Al Hasan ditanya tentang seorang yang berumur 80 tahun, “Apakah dia masih layak mencari ilmu?” Beliau menjawab, “Jika ia masih layak hidup (maka dia layak mencari ilmu).”

– Dikatakan kepada Ibnu Bustham, “Betapa semangatnya engkau dalam mencari hadits.” Maka beliau berkata, “Tidakkah engkau suka kalau aku termasuk ke dalam deretan keluarga Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ?”

Dan Ilmu yg dimaksud adalah ilmu dien – ilmu syar’i dimana mencakup apa-apa dalam AlQuran & AsSunnah dan pemahaman sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali membawakan bahwa para ahli ilmu(ulama) sepakat “ilmu adalah firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta perkataan para sahabat tiada keraguan padanya.” [4]

Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari rahimahullah menyatakan (arti) “Bahwa al-haq (kebenaran) adalah apa yang datang dari sisi Allah Azza wa Jalla, as-sunnah : sunnah (hadits) Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dan Al-Jama’ah : kesepakatan (ijma’) para sahabat-sahabat shalallahu’alaihi wasallam pada khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” [5]

Seperti dibawakan sebelumnya bahwa Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani rahimahullah berkata “,,,Pusat semua itu adalah ilmu tafsir, ilmu Hadits dan ilmu Fiqh”

Dan carilah ilmu dari ulama yg mereka berpegang teguh dan berdiri di manhaj salaf

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (arti) “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar tidak pula dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah memperoleh bagian yang melimpah.” (HR Abu Dawud dan HR Tirmidzi dalam Kitabul Ilmi)

Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” [6]

Al-Imam Al-Auza’I berkata (arti) “Ilmu adalah apa yang datang dari sahabat-sahabat Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam dan sesuatu yang tidak datang dari mereka, maka itu bukan ilmu.” [7]

Muhammad bin Sirrin rahimahullah (arti) “Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [8]

Bila terjadi suatu perselisihan dalam ilmu maka kembalikan pada AlQuran & AsSunnah dan janganlah beristihsan

Firman Allah Ta’ala (arti),

“Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa : 59)

Dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari Ilmu dan berilmulah semata-mata untuk beramal dan mencari ridha Allah Ta’ala dan mengaharap melihat wajah-Nya kelak

Al Imam An Nawawi Rahimahullah berkata (arti), “Selayaknya seseorang untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu baik dengan cara membaca, dibacakan, ataupun membacakan kepada orang lain, menelaah, memberikan catatan-catatan, membahas, mudzakarah (mempelajari dan Muroja’ah/mengulang pelajaran), dan menulisnya. Dan janganlah dia merasa sombong sehingga tidak mau belajar kepada orang yang di bawahnya dari sisi umur, nasab, atau kemahsyuran. Bahkan hendaknya ia bersemangat untuk mendapatkan faidah dari orang yang memilikinya (ilmu).” [9]

Syaikh Abdul Aziz bin Adullah bin Baz mengatakan dalam kitabnya Al-Ilmu wa Akhlaaqu Ahlih (edisi Indonesia: Ilmu dan Akhlak Ahli Ilmu), “Bukanlah tujuan berilmu itu agar engkau menjadi seorang ‘alim atau agar engkau diberi ijazah yang diakui dalam suatu bidang ilmu. Namun tujuan di belakang semua itu adalah supaya engkau beramal dengan ilmu yang engkau miliki, agar engkau mengarahkan manusia kepada kebaikan. Beliau menyebutkan: Karena dengan ilmu-lah seseorang sampai pada pengetahuan tentang kewajiban yang paling utama dan paling agung, yaitu men-tauhid-kan Allah dan mengikhlaskan ibadah untuk-Nya.”

Wallahu’alam Ta’ala wa Alhamdulillah

Sholawat dan salam pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam – keluarganya – karibnya – shahabatnya – segenap muslim umatnya

Note

[1] Syarh Sunnah 1/244 – Imam Baghowi

[2] Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari 1/40

[3] Miftaahu Daaris Sa’aadah 1/74

[4] Bahjatunnadlirin syarah Riyadlusshalihin 2/462

[5] Syarhus Sunnah hal 105 No. 105

[6] Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari 1/108

[7] Al-Jaami’ 2/29 – Ibnu Abdilbar

[8] Imam Muslim – Muqodimah Shohih Muslim 1/14

[9] Al Majmuu’ 1/29

QS Yunus: 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: