Sesungguhnya bid’ah dalam agama itu sesat… (tersesat pula yg mudah mebid’ahkan tanpa dalil)

Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah : 3)

Berkata Al-Imam Malik bin Anas: “Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” Maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, maka tidak menjadi agama pula pada hari ini.” (Al-I’tisham, Al-Imam Asy-Syathibiy 1/64)

Berkata Asy-Syaukani: “Maka, sungguh apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mematikan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana dengan pendapat orang yang mengada-adakan setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya?! Seandainya sesuatu yang mereka ada-adakan termasuk dalam urusan agama menurut keyakinan mereka, berarti belum sempurna agama ini kecuali dengan pendapat mereka, ini berarti mereka telah menolak Al-Qur`an. Dan jika apa yang mereka ada-adakan bukan termasuk dari urusan agama, maka apa faedahnya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan dari urusan agama ? (Al-Qaulul Mufiid fii Adillatil Ijtihaad wat Taqliid hal.38)

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam sabdanya,

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ (رواه النسائي )

Terjemah Hadist,

“Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa sallam] dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (muhdats), dan setiap perkara yang baru (muhdats) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesasatan tempatnya neraka”

Penjelasan bahasa,

Bid’ah menurut bahasa artinya: “Sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya.

Kata bid’ah ini terdapat dalam AlQuran seperti arti bahwa Allah menciptakan langit dan bumi (tanpa ada contoh sebelumnya).

Atau arti seperti bahwa Muhammad Rasulullah bukanlah seorang rasul pertama yang kepada umat di bumi ini.

Dari sisi akar kata, kata bid’ah dapat dikatakan untuk sesuatu yang terpuji dan tercela. sebab yang dimaksud dengan bid’ah secara bahasa adalah sesuatu yang baru dibuat tanpa ada contoh sebelumnya baik sesuatu yang buruk ataupun sesuatu yang baik.

Kata bid’ah jika disebutkan secara mutlak maksudnya adalah perkara baru yang tidak baik yang ada dalam agama, dan yang seperti itu adalah kata mubtadi’ (ahli bid’ah), yang digunakan untuk celaan.

* Ungkapan “cara baru dalam agama” itu adalah cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama padahal tidak ada dasarnya atau pedomannya dalam syariat.
* Ungkapan “menyerupai syariat” sebagai penegasan bahwa sesuatu yang diada-adakan dalam agama itu pada hakikatnya tidak ada dalam syariat, bahkan bertentangan dengan syariat seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang tidak ada dalam syariat. Juga mengharuskan ibadah-ibadah tertentu yang dalam syariat tidak ada ketentuannya.
* Ungkapan “untuk melebihkan dalam beribadah kepada Alloh”, adalah pelengkap makna bid’ah, karena itulah tujuan para pelaku bid’ah, yaitu menganjurkan untuk tekun beribadah, karena manusia diciptakan Alloh hanya untuk beribadah kepada-Nya seperti disebutkan dalam firman-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan Manusia melainkan supaya mereka beribadah-Ku”. Seakan-akan orang yang membuat bid’ah melihat bahwa maksud dalam membuat bid’ah adalah untuk ibadah sebagaimana dimaksudkan ayat tersebut. Dia merasa bahwa apa yang telah ditetapkan dalam syariat belum mencukupi sehingga dia melebih-lebihkan dan menambahkan.

Penjelasan kalimat Hadits,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

…kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin finnar

“…setiap [semua] yang bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya neraka” adalah pengertian bid’ah secara istilah.

Berkata Ibnu Rajab: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat)” merupakan kata (qa’idah) yang menyeluruh dan tidak ada pengecualian sedikitpun (dengan mengatakan, “Ada Bid’ah Hasanah”, pent.) dan merupakan dasar yang agung dari dasar-dasar agama.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih hal.549)

Berkata Ibnu Hajar: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat)” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: “Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”

Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan – pen), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)

Maksudnya apa-apa yang dilakukan umat berkaitan dengan masalah agama [cara, sifat dan bentuk amal ibadah – syariat] harus berdasarkan tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa-apa yg dilakukan umat berkaitan dengan masalah agama “tanpa” sandaran yg haq & tsiqoh dari Rasulullah maka bisa masuk ke kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin finnar.

Untuk mengkuatkan “perkara” bid’ah yg sesat dalam urusan agama dari syubhat-syubhat yg ada dewasa ini dg berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini, apa-apa yang tidak ada darinya [tidak kami perintahkan -pen] maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhariy no.2697 dan Muslim no.1718)

Berkata Asy-Syaukaniy: “Hadits ini termasuk qa’idah-qa’idah agama, karena termuat di dalamnya banyak hukum yang tidak bisa dibatasi. Betapa jelas sumber dalil untuk membatalkan ahli fiqh yang berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi beberapa bagian, dan penolakan mereka secara khusus tentang sebagian di dalamnya, sementara tidak ada pengkhususan (yang dapat diterima) baik dari dalil ‘aqli (logika) maupun naqli (dari Al-Qur`an & As-Sunnah – pen). (Nailul Authaar 2/69)

juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran [tidak kami perintah – pen] kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Hadist ini menggambarkan dalam agama [cara, sifat dan bentuk amal ibadah – syariat] harus bersardarkan tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sesuatu yang baru dalam agama [cara, sifat dan bentuk amal ibadah – syariat] tertolak bila tidak ada sandaran yg haq & tsiqoh hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik mencakup tentang cara, sifat dan bentuk amal ibadah.

Berkata ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu: “Semua bid’ah adalah sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah hadits no.205 (1/339) dan Al-Laalikaa`iy hadits no.126 (1/92))

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa bid’ah bisa berarti dalam bahasa ataupun istilah, adapun bahwa setiap/semua bid’ah itu adalah sesat ini adalah dalam makna istilah. Dalam makna istilah inilah yang menjadi pedoman/acuan bahwa setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya neraka.

diambil dari :

1. Risalah Bid’ah oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat
2. Membedah Akar Bid’ah oleh Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari
3. Al-Wala & Al-Bara oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
4. Al-Luma’ fir Raddi ‘alal Muhsinil Bida’ oleh ‘Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir As-Sahaibaniy
5. Artikel Mengenal Seluk Beluk BID’AH – Muhammad Abduh Tuasikal – http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah…

Note : faidah yg diambil penulis dari maraji’,

1. Bahwa setiap [semua] bid’ah dalam agama itu tertolak (mardud).
2. Setiap amal ibadah yang tidak mempunyai dasar dari Al-Quran dan Sunnah dinamakan muhdats atau bid’ah.
3. Mafhumnya (yang dapat dipahami), bahwa setiap amal yang berdasar dari Al-Quran dan As-Sunnah dengan pendalilan yg haq dan tsiqoh diterima (maqbul).
4. Al-Quran dan As-Sunnah selalu berjalan bersama, tidak akan pernah berpisah dan tidak akan bertentangan satu dengan yang lainnya, kecuali bila pendalilan yg menyalahi kaidah-kaidah yg ada.
5. Meninggalkan dan menjauhi hadits-hadits maudlu dan munkar dalam pendalilan masalah-masalah agama, bahkan hadits dhoif bila tidak ada penguat dari riwayat lain yg shohih.
6. Bahwa As Sunnah juga sebagai pentafsir Al-Quran dan yang memberikan penjelasan. Kalau meninggalkan As-Sunnah maka bersamaan dengan itu pun meninggalkan Al-Quran.
7. Bahwa bid’ah dalam agama adalah sejelek-jelek atau seburuk-buruk urusan dan kesesatan dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.
8. Muhdats itu perkara yang baru. Dimaksudkan bid’ah adalah perkara atau urusan yang baru di dalam agama.
9. Bid’ah pada hasanah atau sayyi’ah (buruk) bisa terjadi dalam makna bahasa di urusan dunia[mubah] yg tidak menyangkut urusan agama[ibadah] , bisa difahami dari hadits dg arti “… Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Kalian lebih tahu dengan urusan dunia kalian”. [Hadits Riwayat Imam Muslim No. 2363 dari sahabat Anas radhiyallahu‘anhu tentang sahabat anshor yg mengawinkan pohon kurma].
10. Bahwa Sunnah dan bid’ah dlm agama selamanya tidak pernah bersatu.
11. Bahwa setiap bid’ah itu maksiat dan belum tentu sebaliknya. Contohnya, zina itu maksiat akan tetapi zina itu bukan bid’ah.
12. Syarat diterimanya amal ibadah dalam urusan agama dengan ikhlas dan mengikuti sunnah.
13. Berhati-hati dr syubhat yg ada di zaman ini untuk menghalalkan bid’ah dg berlindung pada perkataan “kullu” ataupun “minhu” dari hadits ttg bid’ah.
14. Imam Syafi’i dalam hal-hal ibadah tidak diperbolehkan adanya qiyas, dikuatkan oleh pendapat Imam Ibnu Katsir dalam bab ibadah.
15. JANGANLAH mudah membid’ahkan bila samar dan belum jelas secara syar’i dan tanpa dalil yg kuat dan shohih.
16. MEMEGANG kaidah maqhositu syari’ah dalam masalah Hajr [dan lainnya] orang2 yg melakukan bid’ah.

Kekurangan atau kesalahan semata-mata dari pribadi yg fakir ilmu ini yg sangat perlu koreksi untuk kebenaran, dan kebenaran yg ada dari Allah Ta’ala

Wallahu bishowab wa Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: