Tentang Riba !!!

بسم الله الرحمن الرحيم

Riba definisi secara syar’i seperti yg dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu bahwa riba adalah: “Penambahan pada dua perkara yang diharamkan dalam syariat, adanya tafadhul (penambahan) antara keduanya dengan ganti (bayaran), dan adanya ta`khir (waktu) dalam menerima sesuatu yang disyaratkan qabdh (serah terima di tempat).” (Syarhul Buyu’, hal. 124). Definisi ini mencakup riba fadhl(tambahan) dan riba nasi`ah(tempo/waktu).


Riba dengan segala bentuknya adalah haram dan termasuk dosa besar, dengan dasar Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ ulama.

Dalil dari Al-Qur`an di antaranya adalah:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

Juga dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 278-279)

dan dari As-Sunnah di antaranya:
hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِيْقَاتِ -وَمِنْهَا- أَكْلَ الرِّبَا
“Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan –di antaranya– memakan riba.” (Muttafaqun ‘alaih)

hadits Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari:

لَعَنَ اللهُ آكِلَ الرِّبَا
“Semoga Allah melaknat pemakan riba.”(HR. Al-Bukhari)

Dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Al-Imam Muslim, yang dilaknat adalah pemakan riba, pemberi riba, penulis dan dua saksinya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

هُمْ سَوَاءٌ
“Mereka itu sama.”

Ibnu Taimiyah rahimahullahu menggambarkan besarnya dosa riba sebagai berikut: “Tidak ada suatu ancaman hukuman atas dosa besar selain syirik yang disebut dalam Al-Qur`an yang lebih dahsyat daripada riba.”
Kesepakatan ini dinukil oleh Al-Mawardi rahimahullahu dan An-Nawawi rahimahullahu dalam Al-Majmu’ (9/294)

Riba mempunya jalan-jalan yg cukup banyak untuk menjatuhkan kaum muslim kedalamnya sebagaimana hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا
“Riba itu ada 73 pintu.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi dalam Shahihul Musnad, 2/42)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“(arti) Satu dirham dari riba yang dimakan oleh seseorang dan ia tahu itu (riba), maka lebih besar disisi Allah daripada berzina tiga puluh enam kali “ (HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani dishahihkan oleh syaikh Al Albani didalam shahihul jami’)

dalam hadist lain disebutkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
“(arti) Riba itu memiliki tujuh puluhan pintu, yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang menggauli ibunya sendiri “ (syaikh Al Albani di shahihul jami’)

maka ketauhilah riba dan jalan-jalannya…
Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menyebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى، اْلآخِذُ وِالْمُعْطِي فِيْهِ سَوَاءٌ
“Emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr (sejenis gandum), sya’ir dengan sya’ir (sejenis bahan makan), kurma dengan kurma dan garam dengan garam harus sama (timbangannya), serah terima di tempat (tangan dengan tangan). Barangsiapa menambah atau minta tambah maka dia terjatuh dalam riba, yang mengambil dan yang memberi dalam hal ini adalah sama.” (HR. Muslim)

Dengan hadits diatas ulama-ulama beristinbath melalui cara ijtihad bahwa barang-barang selain dengan enam barang di atas (emas-perak-burr-sya’ir-kurma-garam) dapat diqiyaskan bila ‘illat (sebab hukumnya) sama (walaupun terjadi perbedaan pendapat dalam batasan ‘illat),
-) Pendapat madzhab Hanafiyah dan madzhab Hanabilah, bahwa riba itu berlaku tidak dimakanpada barang yang ditakar atau ditimbang baik itu yang dimakan
-) Pendapat imam Asy-Syafi’i, juga disandarkan oleh An-Nawawi kepada Ahmad bin Hambal, Ibnul Mundzir, dan yang lainnya, bahwa riba itu berlaku pada tidak ditimbang/ditakar yang diminum baik itu yang ditimbang/ ditakar semua yang dimakan
-) Pendapat Malik bin Anas rahimahullahu dan dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu, bahwa riba berlaku pada makanan pokok yang dapat disimpan
-) Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, wakilnya Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, anggota: Asy-Syaikh Shalih Fauzan, Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, mereka berpendapat bahwa riba berlaku ditakar atau ditimbang diminum pada setiap barang yang dimakan

Mata Uang,
Mata uang baik itu kertas atau logam lain adalah sesuatu yang berdiri sendiri sebagai naqd seperti emas dan perak. Dan mata uang itu berjenis-jenis sesuai dengan perbedaan jenis pihak yang mengeluarkannya (negara).
Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, mayoritas Kibarul Ulama dan dikuatkan oleh dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi.
Disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah (13/442-444) diketuai Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, anggota Asy-Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan, Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud, sebagai berikut:
1. Terjadi dua jenis riba (fadhl/tambahan dan nasi`ah/tempo) pada mata uang sebagaimana yang terjadi pada emas dan perak.
2. Tidak boleh menjual satu jenis mata uang dengan jenis yang sama atau dengan jenis mata uang yang lain secara nasi`ah (tempo) secara mutlak. Misal, tidak boleh menjual 1 dolar dengan 5 real Saudi secara nasi`ah (tempo).
3. Tidak boleh menjual satu jenis mata uang dengan jenis yang sama secara fadhl (selisih nominal), baik secara tempo maupun serah terima di tempat. Misalnya, tidak boleh menjual Rp. 1000 dengan Rp. 1.100.
4. Dibolehkan menjual satu jenis mata uang dengan jenis mata uang yang berbeda secara mutlak, dengan syarat serah terima di tempat. Misal, menjual 1 dolar dengan Rp 10.000 (kurs tukar)

Riba dalam kredit,
Diriwayatkan oleh An-Nasa’i (VII/296), At-Tirmidzi (I/232) dan dishahihkan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban (1109), Al-Baghawi dalam Syarh As-Sunnah (VIII/142/211), Ahmad (II/342, 375, 503) terdapat hadits dari beberapa jalan dari Muhammad bin Amr dengan lafazh:
“Artinya : Beliau melarang dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan”.

Al-Baihaqi berkata : “Bahwa Abdul Wahhab (yakni Ibnu Atha’) berkata yaitu (si penjual) berkata : “Itu (barang) untukmu apabila kontan Rp 10,- namun jika dengan penundaan (seharga) Rp 20,-“

Imam Ibnu Qutaibah juga menerangkannya dengan (keterangan) ini, beliau berkata di dalam “Gharib Al-Hadits (I/18)” : Diantara jual beli yang terlarang (ialah) dua syarat (harga) dalam satu penjualan, yaitu (misalnya) seseorang membeli barang seharga dua dinar jika temponya dua bulan, dan seharga tiga dinar jika temponya tiga bulan. Itulah makna “dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan.

Dan di hadits lain dari Ibnu Mas’ud dengan lafazh,
“Artinya : Tidak patut dua akad jual-beli di dalam satu akad jual-beli dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Allah melaknat pemakan (riba), saksinya dan penulisnya”
[riwayat Imam Ahmad (I/393), riwayat Ibnu Hibban (1112) ]

Riba Dain (riba dalam hutang),
Riba ini disebut juga riba jahiliyah, sebab riba jenis inilah yang dilakukan pada masa jahiliyah. Dan riba jenis ini ada dua bentuk. Penambahan/fadhl harta piutang sebagai tambahan dari tempo/nashi’ah & Piutang dengan tambahan/fadhl (bunga) yang disyaratkan dlm akad

InsyaAllah saduran yg kecil dan jauh dr sempurna ini bermanfaat … Wallahu a’lam bish shawab wa Alhamdulillah

Salam
Al-Mumtaz
Blackberry Online Store

*****************
Rujukan,
– tulisan ilmiah Riba oleh Ustadz Abu Abdillah Afifuddin, darussalaf
– Penjualan Kredit Dengan Tambahan Harga oleh Abu Shalihah Muslim Al-Atsari, As-Sunnah Edisi 12/Th III/1420-1999
– tulisan ilmiah Riba Sebuah Dosa Besar yang Dianggap Ringan oleh Abu Ibrahim ‘Abdullah Al Jakarti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: